Perumpamaan Orang yang Menyeru kepada Selain Allah
Perumpamaan Orang yang Menyeru kepada Selain Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 9 Rabiul Awal 1448 H / 22 Agustus 2026 M.
Kajian Islam Tentang Perumpamaan Orang yang Menyeru kepada Selain Allah
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17)
Dalam beberapa ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat perumpamaan dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan manusia agar permasalahan yang dijelaskan lebih mudah dipahami. Hal ini menunjukkan besarnya kepentingan perkara tersebut, terutama masalah tauhid, iman, dan penguatan keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Al-Qur’an telah memberikan penjelasan yang sangat jelas, kemudian memperkuatnya dengan perumpamaan. Dengan demikian, permasalahan tersebut semakin jelas dan semakin kuat. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pembahasannya melalui judul مثل مَن يدعو غير الله, yaitu perumpamaan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah.
Pembahasan tentang memurnikan tauhid dan penghambaan diri kepada Allah merupakan salah satu pembahasan yang paling banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Pembahasan tentang tauhid dan bantahan terhadap kesyirikan paling banyak berkaitan dengan kesyirikan dalam berdoa dan menyeru kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perkara ini paling dibutuhkan manusia agar mereka mengetahui siapa yang pantas diseru, dimintai pertolongan, dan dijadikan tempat bersandar dalam segala hajat dan kebutuhan.
Karena itu, perkara tersebut paling banyak dibahas dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Penyimpangan berupa kesyirikan yang dilakukan orang-orang musyrik juga banyak dibantah sebagai pelajaran bagi manusia.
Perumpamaan pertama disebutkan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Hajj ayat ke-73. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
“Wahai manusia, telah dibuat suatu perumpamaan. Maka simaklah perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama-sama lemahlah yang menyembah dan yang disembah.” (QS. Al-Hajj [22]: 73)
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan permisalan agung ini kepada seluruh manusia agar mereka mendengarkannya dengan baik. Orang-orang yang dianggap sebagai wali, orang-orang saleh, dan selain mereka, yang selalu diseru ketika menghadapi kesulitan dan bencana, tidak mampu menolong orang-orang yang menyeru mereka.
Akal sehat menunjukkan bahwa sesuatu yang dimintai pertolongan semestinya lebih kuat dan lebih mampu daripada orang yang meminta, serta terbukti mampu memenuhi kebutuhannya. Sementara itu, sembahan-sembahan tersebut sama lemahnya dan sama-sama tidak mampu seperti manusia. Mereka juga sama-sama makhluk yang diciptakan. Buktinya, mereka tidak mampu menciptakan makhluk yang paling kecil dan rendah, seperti lalat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan permisalan ini untuk menjelaskan keburukan, kebodohan, dan kerendahan orang yang melakukan kesyirikan dengan menyeru kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak mampu menciptakan sesuatu pun dari makhluk, bahkan seekor lalat.
Seandainya mereka mampu menciptakan makhluk, mungkin mereka pantas dimintai dan disembah. Namun, mereka tidak mampu menciptakan makhluk yang paling kecil sekalipun. Ketika lalat mengambil sesuatu dari makanan atau minuman mereka, mereka juga tidak mampu merebutnya kembali. Mereka tidak mampu menyelamatkan sesuatu yang mereka miliki sendiri. Lalu, bagaimana mungkin mereka mampu menyelamatkan orang lain? Kebutuhan mereka sendiri tidak mampu mereka penuhi. Lalu, bagaimana mungkin mereka memenuhi kebutuhan orang lain?
Permisalan ini menjadi bukti kelemahan sembahan-sembahan tersebut dan kelemahan lalat yang dijadikan contoh. Karena itu, tidak mungkin sembahan-sembahan tersebut pantas disembah atau diseru selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam permisalan ini terdapat pengingkaran yang sangat keras terhadap orang-orang yang menyeru kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dari kalangan para nabi, orang-orang yang disebut sebagai wali, maupun selain mereka.
Bahkan, Allah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan bahwa beliau tidak memiliki kemampuan bagi dirinya sendiri untuk mendatangkan manfaat atau menolak kemudaratan, kecuali sesuai dengan kehendak Allah.
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali apa yang dikehendaki Allah.’” (QS. Al-A’raf [7]: 188)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia yang paling mulia, tidak mampu mendatangkan manfaat atau mencegah kemudaratan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak Allah. Terhadap orang lain, tentu lebih tidak mampu lagi. Hal ini menunjukkan pengingkaran yang sangat kuat terhadap kesyirikan tersebut.
Syirik Bertentangan dengan Syariat, Akal, dan Fitrah
Batilnya perbuatan syirik telah dijelaskan berkali-kali. Penjelasan tersebut tidak hanya bersumber dari dalil syariat, Al-Qur’an, dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi juga ditegaskan oleh akal sehat dan fitrah manusia yang selamat. Keduanya membantah perbuatan syirik dan menegaskan bahwa tidak pantas ibadah dipersembahkan atau doa diserukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, siapa pun sembahan tersebut, meskipun berasal dari kalangan orang saleh, nabi, atau rasul. Hal ini menunjukkan keburukan dan kelemahan perbuatan syirik yang dilakukan orang-orang musyrik.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa perumpamaan tersebut dibuat Allah ‘Azza wa Jalla untuk mengungkapkan buruknya beribadah kepada berhala dan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perbuatan itu buruk, menunjukkan rendahnya pemikiran, tidak mendatangkan manfaat, serta mendatangkan dosa dan keburukan bagi seorang hamba di dunia dan akhirat.
Perumpamaan itu sekaligus menjelaskan rendahnya akal orang-orang yang menyembah berhala. Mereka adalah orang-orang yang sangat bodoh. Perumpamaan tersebut juga menjelaskan kelemahan semua yang disembah dan orang-orang yang menyembahnya.
Perumpamaan untuk Menguatkan Tauhid
Seruan dalam ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia, baik orang-orang beriman maupun orang-orang kafir. Orang-orang beriman membutuhkan perumpamaan ini untuk menambah ilmu dan bashirah serta memperdalam pemahaman tauhid di dalam hati. Adapun bagi orang-orang kafir, perumpamaan ini menjadi hujah agar mereka tidak lagi memiliki alasan atas perbuatan syirik yang dilakukan.
Penjelasan tentang tauhid bukan hanya dibutuhkan oleh orang-orang yang belum mengenal kajian. Semua orang membutuhkannya karena penyimpangan tauhid dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang memiliki hajat dan kebutuhan. Dalam keadaan demikian, seseorang bisa mencari segala sebab untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan terkadang menyerempet kepada perbuatan syirik.
Perumpamaan tersebut harus disimak dengan sungguh-sungguh dan dipahami kandungannya. Jangan sampai perumpamaan itu hanya diterima oleh hati yang kosong dan lalai atau oleh pendengaran yang tidak berkonsentrasi. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat perumpamaan ini, berarti maknanya dibutuhkan oleh seluruh manusia untuk menguatkan dan memantapkan tauhid dalam hati orang-orang beriman, sekaligus menjadi teguran keras bagi orang-orang yang melakukan syirik.
Segala sesuatu yang diseru selain Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup seluruh sembahan selain-Nya, baik berupa patung, jin, orang-orang yang dianggap wali, nabi, maupun malaikat. Mereka semua tidak akan mampu menciptakan seekor lalat.
Lalat disebutkan sebagai contoh karena termasuk makhluk yang rendah dan hina. Jika mereka tidak mampu menciptakan makhluk yang paling rendah, tentu mereka lebih tidak mampu menciptakan makhluk yang lebih tinggi. Bahkan, meskipun mereka bersatu untuk menciptakan lalat, mereka tetap tidak akan mampu melakukannya.
Kelemahan mereka lebih jelas lagi ketika lalat mengambil sesuatu dari mereka, seperti makanan atau minuman. Mereka tidak mampu merebut kembali sesuatu yang telah diambil lalat tersebut. Hal ini menggambarkan puncak kelemahan mereka.
Yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala lemah, sedangkan yang menyembahnya juga lemah. Bahkan, yang lebih lemah daripada keduanya ialah orang yang bersandar dan bergantung kepada makhluk yang lemah, lalu menempatkannya pada kedudukan Rabbul Alamin. Ia menyamakan makhluk tersebut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Mahakuat, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakuasa atas segala sesuatu, serta menguasai alam semesta dan seluruh isinya. Inilah kebodohan yang sangat parah dari orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla sangat indah dan sempurna dalam agama ini. Dia menyayangi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, Allah membuat perumpamaan agar manusia meyakini bahwa syirik tidak memiliki tempat: perbuatan tersebut tidak masuk akal, tidak sesuai dengan fitrah, bertentangan dengan dalil, serta menunjukkan kebodohan dan kerendahan pelakunya. Na’udzu billahi min dzalik.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Perumpamaan Orang yang Menyeru kepada Selain Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56485-perumpamaan-orang-yang-menyeru-kepada-selain-allah/